The Ordinary Life of an Ordinary Worker

Hatta, gw menghela napas panjang.



Seminggu yang lalu gw nonton reality show favorit gw, Muhan Deojeon, atau Infinity Challenge. Tepatnya episode mengenai Muhan Sangsa (Muhan Company). Mereka berkolaborasi untuk tantangan membuat sebuah film bioskop layar lebar dengan sutradara dan penulis scenario kawakan yang sukses memproduksi banyak drama yang sukses di sana, salah satunya Signal yang juga baru gw tonton sekarang. Sudah gitu, film yang kalau diputar sekitar berdurasi setengah jam lebih ini bener-bener memicu adrenalin dan juga ciamik karena dukungan artis-artis besar lainnya seperti GD, Haewon, dan lainnya. 

Tapi, yang bikin gw click banget sama film singkat yang dirangkum dalam dua episode ini adalah setting dan pemaknaannya. Bahwa, kehidupan pekerja kantoran itu sama sekali gak gampang. Semakin tinggi jabatanmu, akan semakin membahayakan pula kehidupanmu. Mulai dari waktu istirahat yang sangat kurang, kesehatan yang sudah pasti rentan, sampai dengan masalah keakuran dengan keluarga, istri, dan tentunya anak yang semakin jauh. Mayoritas orang korea pulang tengah malam dan berangkat kembali di pagi hari. Tentunya sangat melelahkan. Sebotol dua botol soju di malam hari di kedai pinggiran kota akan sangat menyenangkan sembari mnenyumpah serapah kehidupan yang begitu keras. Seenggaknya ya itu yang bisa gw simpulkan. 

Hm, bisa dibilang gw juga pekerja kantoran sekarang. Walaupun jam kerjanya lebih manusiawi, namun, tetep aja rasanya lelah bukan main ketika sudah pulang dan sampai di rumah. Gw pernah nyoba cuman tidur empat jam dari jam satu malam. En itu rasanya sungguh gila sekali. Badan sakit semua en esoknya pikiran gak fokus karena hormon yang seharusnya membuat gw tidur masih bekerja. Udah gitu kalau dipaksakan, nanti akhir minggu gw bakal masuk angin en pusing-pusing. Jadilah gw ambil jam tidur aman yakni sekitar jam 10 sampai jam 11. 

Gw pakai jam 6 hingga jam 9 malam untuk berolahraga. Walau nggak wajib seminggu 7 kali tapi minimal dalam rutinitas yang hanya duduk di depan sebuah laptop dalam delapan jam itu gw merasa perlu bergerak. Keringat yang mengucur dalam sesi olahraga ini bener-bener membuat kesegaran yang menenangkan. Next, mandi sebentar selepas olahraga, baru berangkat tidur. Begitu seterusnya. 

Pulang gym, gw biasanya melakukan satu dari dua hal. 1) nonton drama atau western series en 2) baca novel. Banyak banget novel yang masih menunggu untuk dibaca. Gw adalah seorang librocubicularist – pembaca buku dalam keadaan tidur. Yah, semacam nina bobo begitu. Paling nggak bisa baca buku dengan keadaan bukan dalam berbaring. Begituah waktu bergulir hingga mendekati jam 10 malam, dan gw pun mulai menguap. 

So, balik ke muhan sangsa, gw nonton minidrama ini dengan penjiwaan yang sungguh sempurna. Memang hidup yang fana ini nggak selamanya enak. Just do the way it is. Nggak usah iri dengan orang-orang di luar sana yang mungkin bisa leyeh-leyeh, bisa jalan-jalan kemana-mana. Bersiaplah dengan drama hidupmu sendiri. Drama dengan sejuta kebetulan-kebetulan yang indah dan dramatis. Hidup tanpa mengharap sesuatu lebih indah karena setiap detik yang berjalan di depan adalah sebuah surprise dan kejutan. 

But, gw butuh sebuah penyegaran.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.