Featured

10/recent

Cerpen : Bagaimana Sejatinya Merayakan Kehilangan

Senin, Maret 06, 2017


Bagaimana sejatinya merayakan kehilangan? Karena bagian dariku tak pernah bisa hilang.

Namun, seluruh hatiku sublim dalam kehilangan itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apa itu kehilangan?

Kehilangan itu adalah proses tiada yang mendadak–tanpa  pemberitahuan  sebelumnya. Ia bukan seperti seorang anak yang berpamitan kepada orangtuanya pada saat bepergian. Namun, ia juga bukan durjana yang seenaknya menghilang begitu saja. Dalam kehilangan ada sebuah proses, ada sebuah dinamika yang garib di dalamnya.

Intinya, bagaimana mengikhlaskan kehilangan? Mengikhlaskan kehilangan berarti mengembalikan hal yang memang semesta tidak memberi izin pada kita untuk memiliki. Dengan begini, pada hakikatnya kita niscaya sebuah ponsel yang rampung diberi daya. Bukan seratus persen, namun dua ratus persen.  Sesuai dengan hukum ketiga Einstein, kehilangan dan menjadi penuh adalah sebuah aksi dan reaksi.

Dengan kehilangan, kita melengkapi dan memenuhi diri dengan berdamai dengan kehilangan itu sendiri.

Begitulah cara semesta bekerja.

The Secret of Focus

Selasa, Desember 27, 2016
Memulai sebuah usaha itu sama seperti berjalan di atas kawat yang tinggi. Anda hanya bisa sukses melewatinya jika bisa fokus untuk berjalan sampai ke ujungnya.
(James Bernstein)

***



Kalau Anda mencari rahasia ajaib yang bisa membawa Anda mencapai sukses dengan cepat dan mudah, Anda tidak akan menemukannya. Sebab, kesuksesan itu bukan barang instan yang bisa dengan gampang dibuat dan diciptakan. Ini rumusnya: tidak ada cara ajaib mencapai kesuksesan. Jalan menuju sukses itu terjal dan berliku. Anda harus mau bersusah payah melewati semua rintangan dan rela bercucuran keringat dalam berikhtiar.

Ya, kerja keras memang menjadi modal utama dalam meraih kesuksesan. Ada upaya, ada hasil yang akan didapat. Ada kerja keras, ada kesuksesan yang menanti Anda di akhir cerita. Jangan pernah bermimpi menggapai keberhasilan jika Anda tak mau bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Namun begitu, kerja keras saja ternyata tidak cukup. Ada satu hal lagi yang harus Anda miliki agar dapat berhasil menyandang kesuksesan. Apa itu? Fokus.

***

Begitulah sepenggal pendahuluan yang mungkin  bisa ditemukan dalam buku yang gw tulis. Well, wait what? Gw nulis buku?

Ya, mungkin kalian para pembaca blog ini penasaran mau beli buku gw? Bisa kok dibeli di gramedia terdekat atau mungkin toko buku lain lesayangan kamu semua. Harganya cukup murah kok. Atau bisa juga beli di toko penerbitnya langsung di http://www.anakhebatindonesia.com/buku-the-secret-of-focus-53.html

Nah, kenapa gw tau-tau jadi penulis psikologi?

Well, why?

Sebenernya penulisan buku ini gw bekerjasama dengan penulis psikologi sih, jadi bisa dikatakan ini adalah joint venture begitu, sehingga bagi yang meragukan isinya hanya karena gw notabene adalah lulusan MIPA, bisa tolong digugurkan dulu premisnya. 

Well, yang protes karena kesalahan cetak di bagian atas cover, ya saya minta maaf. Ini adalah kesalahan pra cetak yang miss dari pihak penerbit sendiri. 

Buat yang mau beli buku ini bisa kok ke gw langsung.

Then, sebenernya rencana awal gw pengen nerbitin novel, cuman gw pakai momentum ini sebagai latihan awal gw dulu sebelum intensi gw itu tercapai.

Ok, silakan di beli ya gaes!!!!

Ahok, Demo, dan Lunturnya Ke-bhineka-an

Jumat, Desember 09, 2016

Well, siapa sih yang nggak ngerti en nggak ngikutin masalah Ahok yang lagi ngetren sekarang. Yeah, even di kantor gw aja jadi rame gegara gw pake acara bahas itu juga buat bahan ceramah jumat gw (baca: ada kajian singkat sebelum jumatan gitu di kantor gw). Gw kayak udah jadi menjadi karakter di serial tivi Black Mirror. The power of Social Media. Walau sebenernya SNS ini udah ada semenjak beberapa tahun yang lalu, namun di tahun 2016 ini etika bermedsos manusia di dunia ini udah gak bener. Sebelum fasilitas seperti broadcast, copy message, share, regram, repath semua-semua itu menjadi belati yang mengusik negeri ini. Kenapa? Karena negeri ini belum siap dengan sisi mata uangnya yang lain. 

Sebelum ada fasilitas itu, etika bermedsos era facebook awal atau Friendster dulu ya ala kadarnya. Namun, jauh lebih dalam, yang disalahkan sebenernya bukanlah fitur-fitur di medsos itu. Melainkan, bagaimana etika kita terpengaruh dan memanajemen setiap informasi yang kta dapatkan. Akses informasi yang semakin mudah, kebebasan berpendapat dan kemudahan fitur medsos dibenturkan ke masyarakat yang random. Hasilnya? Virus akal budi. 

Kita jadi marah ketika video Youtube kita di thumbs down. Ketika pesan whatsapp gak ada centang birunya terus disindir habis-habisan. Ketika nggak ada yang nge-like postingan kita di instagram terus heboh sendiri. Yang paling parah adalah etika sharing informasi. Jika menurut kita sebuah berita itu menarik, langsunglah kita pencet tombol share dan bagikan. Voila, orang menanggapinya beragam. Kita isu itu menarik, jadilah viral. Dari dulu sebenernya gw udah jengah dengan broadcast pesan di whatsapp. Tau-tau dapet pesan panjang banget judulnya renungan mauled nabi, atau apalah, cerita isra miraj, atau kajian-kajian online yang sering banget diposting di grup whatsapp. Yeah, sebenernya bagus dan positif. Namun, orang kebanyakan belum siap dengan hal yang begini. Apalagi orang yang tidak berpendirian.

Orang yang berpendirian akan dapat memfilter sebuah informasi yang masuk. Ia akan dapat membuat statement benar atau salah menurut dirinya. Dan orang ini tidak akan meneruskan pesan itu. Cukup tahu. Orang yang masih kosong dirinya akan mengambil jatidiri kelompok yang paling ia rasa benar. Dan ketika datang informasi itu. Jika tidak sesuai dengannya, dia akan menyalah-salahkan, bahkan nggak jarang penyampai informasi itu akan dijauhi. Kalau informasinya sesuai dengan pemikirannya, maka ia langsung gak segan-segan untuk multilevel sharing. Intinya, demo 411 yang terjadi lalu menurut gw adalah dibiangi oleh pikiran kita yang terhasut secara sosmed. Serta didasari dengan rendahnya level spiritualitas. 

Demo 411 adalah proses pelengseran Ahok, karena sejatinya tidak boleh ada pemimpin kafir. Semua umat muslim wajib ikut demo. Kalau gak demo dipertanyakan akidahnya. Kalau dukung Ahok berarti automurtad. Karena Indonesia jadi nggak berkah kalau dipimpin sama orang kafir. Orang kafir, orang cina itu punya scenario sendiri nanti pas jadi pemimpin. Dia akan membawa orang cina lain ke Indonesia. Takut Indonesia nggak jadi negeri islam terbesar lagi. Itu ringkasan pemikiran orang “kanan” untuk Ahok. Ya, diluar kasus penistaan agamanya lho ya. Kasus itu hanya sebagai pemanis atau katalis. Mencari bola panas.
Dan terjadilah demo 411.

Orang “kanan” : Wah, sukses nih demonya. Demo terbesar dengan kostum putih-putih. Oh itu demonya bikin lafal Allah. Oh suasana demo aman. Kan demo boleh-boleh aja sebagai penyampai aspirasi. Wah, udah sore ini, mana Pak Jokowi (awalnya pake Pak). Wah makin malam ini kemudian sebutan presiden sudah tidak semestinya lagi. Siapa suruh pake mobil. Kenapa nggak pake helicopter. Ah alasan aja nih presiden. Sial, tuh ada provokator bikin rusuh. Duh, ada gas air mata, kenapa nih, sialan polisi.
Orang kebanyakan : Duh, ngapain sih demo segala. Terus kenapa kalao demo terbesar putih-putih mending bersihin Jakarta aja sekalian. Uh bagus tuh ustaz yang di belakang ngambilin sampah. Gila, makin sore mana Pak Jokowi. Buset, ngapain itu ada rusuh-rusuh. Sumpe lu indo***** dijarah. 

Jelas ada perbedaan mengenai pandangan orang kanan dengan orang kebanyakan. The deception. Tepatnya, the deception of your brain. Otakmu disuruh memilih dua keeping mata uang. Walaupun tahu kalau Ahok tidak ada intensi untuk menistakan surat Alquran itu, tetep aja otakmu mengatakan dia salah. Otakmu men-judge orang lain. Otakmu membandingkan dengan diri sendiri. “Aku paling benar dan dia salah”. Denger ustaz X ceramah tentang tafsir surat yang bersangkutan. Karena dari ustaz X yang beken, terpercaya, lulusan Arabia, hafal Alquran, jadilah mereka membenarkannya juga. Sekali lagi, membenarkan bukan karena diri sendiri yang mencari pembenaran, namun mengambil kata orang lain dan memasukkannya sebagai pendapatnya sendiri. Ini yang fatal. Orang sekarang heboh kalau dapet sesuatu yang ada tulisan arabnya. Semua yang ada tulisan arab dipikir suci en pasti benar. Terus kosakatanya jadi kearab-araban, “eh kamu nggak ghirah ya!”, “hati-hati loh, syubhat!”, “tabayyun, taqlid, khawarij, de el el”. Gw juga lama-lama nggak dong. 

Terlena dengan mayoritas. The majority games. Bukannya yang mayor itu harus menaungi yang minor supaya betah, lha ini yang major menjadi adikuasa. Unjuk rasa 411 diluar tujuannya apa, orang minor akan menganggap tidak adanya lagi toleranisme. Undang-undang tidak mengatur agama gubernur atau presiden. Semua rakyat Indonesia bebas menjadi pejabat. But, why it happened? Orang minor akan berpendapat, bahwa mentang-mentang mayor, gampang banget ya mengeliminasi yang minor dengan dalih apapun.
Mpu Prapanca pernah menulis Bhineka Tunggal Ika dalam kitab sutasoma dan sekarang hilang maknanya. Frase yang aslii saja sudah dihilangkan. Sekarang yang sepenggal sudah hampir hilang. Krisis! Dalam game mayoritas di negeri ini, jika kamu sudah menjadi mayoritas kamu akan menjadi intoleran. Dan ketika kamu menjadi minor, kamu akan minta ditoleransi. 

RIP persatuan Indonesia jika masih gampang hasut menghasut via medsos ini terus berlangsung. Suatu saat gw gak sengaja lihat cuplikan video dengan back sound tanah airku. Gila, airmata ini langsung menyergap tanpa komando. Kok kayaknya gw atau mungkin cuman gw yang merasa udah nggak ada lagi rasa menghargai sesama. 

Barusan kemarin ada demo baru lagi, kayak semua bisa selesai dengan demo. Gara-gara demo 212 sukses bukan main mendatangkan yang katanya 150.000 orang membentuk lautan putih-putih sembari meneriakkan suara takbir dan gema lagu nasional. Apakah itu cita-cita bangsa ini? Doa bersama untuk apa? Ego 150.000 orang yang seperti buih di simpang monas dan sekitarnya itu boleh saja diapresiasi positif dengan segala cara, mulai dari rekor Guinness Book sampai dengan disbanding-bandingan sama demo tandingan lain. Doa bersama darimana kalau beberapa hari sesudahnya ada gempa, badai dan sebagainya. 

Barusan juga ada penistaan agama di Sabuga Bandung. Mereka nggak boleh beribadah di ruang terbuka. Katanya nggak ada ijin. Mereka mengatasnamakan sebagai pasukan pembela sunah. Gw ngelihatnya miris. Ini memang mereka yang ngajinya nggak bener atau dibayar sama komplotan mana. 

Kuncinya adalah medsos. Semoga jurnalis lebih pandai untuk menyetir umat yang rentan terhadap berita ini.
Buat pemerintah, kembali ajalah ke undang-undang 1945 tanpa amandemen. Penanaman wawasan nusantara kalah telak dengan mentoring agama menurut gw. Adakan lagi P4T yang tidak dogmatif lagi kalau perlu. 

Buat yang masih kanan, ngaji lagi lebih dalam, jangan cuman kulitnya tok. Pelajaran agama itu pelajaran akhlak, tingkah laku, manajemen ego. Demo itu adalah unjuk ego. Ingin itu ego. Ingin itu salah satu dari tujuh dosa besar. Greed. Belajar untuk mengenal orang lain, belajar untuk mengenal umat yang lain. Manusia itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar dapat saling mengenal dan menghilangkan sifat kesukuan dan kebangsaannya serta mengedepankan toleransi. Buat yang masih merasa benar, ingat, yang benar hanyalah Allah semata. Jika kamu merasa benar dan membenar-salahkan orang lain, secara tasawuf itu sudah termasuk menyekutukan Allah. Kita hidup di dunia ini dinikmati aja toh, kita kan bukan hakim yang memberi vonis kepada orang lain.

Gw rindu aja kehidupan yang rukun. 

Pernah gw tweet, “kalau gw jadi Ahok, gw mending dipenjara dan penjaranya bisa dipegang dan disentuh plus ada batasan kapan bisa keluar daripada dipenjara oleh penjara batin dan tabir mata hati yang membutakan kesejatian diri”

Semoga Pak Ahok bisa menjadi the next Nelson Mandela misal memang benar nantinya masuk penjara. Gw shock kemarin ke Jakarta en lihat sungai yang dulu bau kotor en kumuh, sekarang udah bersih en nyaman dipandang. Jakarta kayak punya Sungai Thames, Sungai Han, atau Rheine. 

Dan gw baca postingan Aa Gym yang menyamakan Ahok dengan Firaun, Namrud, dan sebagainya. Perbandingan yang nggak apple to apple. Dan gw resmi unfollow Aa karena sekedar kecewa saja sih.  

Mengapa ada 17 keping ramalan (dari kitab musarar) Jayabaya yang disembunyikan oleh negara? Mungkin jika belajar dari kejadian akhir-akhir ini bisa disimpulkan deh: akan terjadi sebuah pralaya. Semesta sudah memperlihatkan gejalanya. Sekedar doa bersama takkan mengubah nasib kecuali semua yang berdoa itu mahfum atas apa yang ada (insan kamil). Semoga Allah memberi keselamatan bagi mereka-mereka yang masih menyimpan lentera. Amin.
#semogaIndonesialebihbaik

Usia

Jumat, Oktober 21, 2016

 Pada saat usiaku yang sekarang, Buddha baru melihat kenyataan dunia untuk pertama kalinya.
Pada saat usiaku yang sekarang, Van Gogh baru memulai hobinya melukis.
Pada saat usiaku yang sekarang, Pierre Omidyar baru memulai eBay.
So, kesimpulannya apa?

6 Gelato di Yogyakarta

Rabu, Oktober 12, 2016
Jaman sekarang menurut gw lagi jaman banget sama yang namanya pergelatoan. Iya, gelato. Sebenernya kata gelato ini bukan bahasa italia dari es krim. Tapi secara istilah memang berbeda. Gelato pada umumhya mempunyai kandungan lemak yang jauh lebih sedikit dari es krim, makanya harganya biasanya lebih mahal kan. Tapi, untuk yang milk based gelato, memang biasanya kadar gula (karbo)-nya lebih banyak sedikit, tapi ya secara umum bisa dibilang gelato ini lebih sehat dari es krim. 

Secara riset online (umum): McFlurry, 567 kalori, 82 gram karbo, 20 gram lemak jenuh, 15 gram protein, en 70 mg kolesterol (satu porsi). Gelato umum, 160 kalori, 25 gram karbo, 6 gram lemak jenuh, 2 gram protein, 34 mg kolesterol, dan 69 mg sodium

Pada umumnya perbandingan lemak dan gula yang berbanding satu banding satu itulah yang memicu kegemukan dan obesitas. Dan kenapa gw cantumkan McFlurry? Karena eh karena gw penggemar McFlurry Take away.. LOL... 

1)

Restaurant's Name :
Artemy Gelato

Design and Architecture :
Secara konsep, Artemy memang sudah ada di Yogyakarta jauh banget sebelum hits pergelatoan membombardir Jogja. Awalnya Artemy ini cuman ada di samping Malioboro Mall sana dengan warung kecilnya. Sekarang, sebagai pionir gelato di Jogja, Artemy udah mempunyai cabang di beberapa tempat. Konsep arsitektur dari semua gerai Artemy ini adalah campuran antara Italian vibe dengan French touch. Lu dah kayak mengunjungi dua negara yang emang bertetangga itu deh. Secara interior sih lucu. Banyak add-ons yang unik-unik memberi kesan Parisian sekali memang. Chick and girlies sekali memang.

Pricing :
1 scoop = 11000
1 scoop premium = 13500
Selasa ada promo (*kalau masih berlaku)

Taste :
Walau tahu kalau gelato itu mengandung jumlah lemak yang agak lebih sedikit, namun ketika mencicipi gelato ini, tetep aja ngerasa susunya dense sekali. Apalagi favorit gw adalah vanilla. Rasanya asolole sekali deh. Walau emang dikit sih satu scoop di sini. 

Presentation :
Standar gelato, lo bisa pake gelas, pake cup, pake cone, en pake topping yang banyak variasinya. Iya, balik lagi, ada harga di setiap penambahan yang lo minta. Heuhuheue.

Conclusion:
Grade:
Vanilla Scoop: A+
Chocolate Scoop: A

How Do I Get There :
Artemy Gelato Malioboro (samping Malioboro mall, sebenernya gw malah gak pernah kesini, entah deh masih ada atau enggak)
Artemy Kranggan (deket pusat jualan aksesoris HP, satu gang di utaranya)
Artemy Babarsari (Kompleks ruko Babarsari sana)


2)

Restaurant's Name :
Mary Anne’s Gelato

Design and Architecture :
Simplicity. Bener-bener memanfaatkan spot sempit di antara bangunan kampus di Demangan. Konsepnya modern, tipikal rumah makan amerika. Dua lantai. Pencahayaan agak temaram. Dilihat dari menunya, kayaknya ini bukan sekedar resto gelato, namun banyak makanan lain yang bisa dipesan di tempat ini. 

Pricing :
1 scoop = 10000, scoop selanjutnya ada potongan. (lucu emang konsep pembayarannya)
Ada juga promo tergantung seasonnya, cekaja terus medsos gan!

Taste :
Kombinasi gula dan susu disini agak aneh. Manis sih manis sangat tapi teksturnya nggak tau kenapa gw susah menjabarkan. Gw pesen nutella di sini. Enak sih memang. Cuman ya itu, kurang nendang aja vanilla-nya. 

Presentation :
Secara default lo bakal dapet gelas kaca gitu. Tapi lo bisa pesen dengan cara lain kok. 

Conclusion:
Grade:
Vanilla Scoop: B
Nutella Scoop: A-

How Do I Get There :
Demangan, samping mendem duren, yah sebelah Atmajaya persis lah. 


3)

Restaurant's Name :
OMG Gelato


Design and Architecture :
Modern vibe namun minimalis. Tapi agak gelap sih fasadnya en biasa buat tempat nongkrong anak gaul Maguwo. Bwhahaha. 

Pricing :
2 scoop = 25000 (Default)

Taste :
Yang ini beneran mantap sekali gan. Tapi mungkin gak baik kalo banyak makan di sini. Gulanya kayaknya banyaaaaaaakkkk banget. Jadi rasanya nendang gandos gak plain. Ini adalah gelato yang setipe dengan es krim pada umumnya. Konsistensi en tekstur yang dense, pekat plus ditunjang dengan renyahnya cone, daebak!

Presentation :
Lo bakalan dapetin cup ala OMG yang so lucu banget dah. Lucunya secara default lo bakal dapet cone yang dibentuk semacam corong buat dua scoop yang berbeda itu. Jadi rasa tiap scoop bisa terpisah dengan baik. Walau pada kahirnya nanti tetep aja bakal kecampur. 

Conclusion:
Grade:
Vanilla Scoop: A+
Chocolate Scoop: A+

How Do I Get There :
Perempatan UPN, udah keliatan kok. :)

4)

Restaurant's Name :
Tempo Gelato

Vanilla Chocolate
Design and Architecture :
Classic Vibe dengan interior yang lebai sekali sebenernya. Hahaha. Banyak dekorasi-dekorasi yang sebenernya tidak sesuai konsep gelato di sini. Mending kalau menurutku banyakin frame-frame interior yang lebih mengacu pada hal-hal berbau italia. Sayang fasadnya udah Itali banget lengkap dengan batubata-nya. Tapi secara interior malah berbau Inggris jaman Sherlock Holmes. Tapi lumayan lah, ada sentuhan pop art sedikit di beberapa dinding. Yah, cukuplah membuat ambiens Eropa di cuaca jogja yang panas ini. 

Pricing :
2 scoop = 25000 (cone), 20000 (cup)

Taste :
Secara konsistensi gelatonya sendiri sih enak, well done, dense but not too dense. Semacam kayak nyobain permen karet yang bisa hancur. Namun secara rasa. It’s a bit plain. Vanilla gak berasa vanilla sama sekali. Jadi, sama kayak Mary Anne, kurang nendang. Tapi mungkin lebih sehat. Lagipula corong cone itu yang enak en renyah banget. Kata temen gw, itu yang rasa buah-buahan (dalam hal ini dia bilang rasa mangga) lebih enak en berasa mangga banget. En, memang sih, mereka punya rasa-rasa yang nggak lazin kayak rasa lemon grass (serai), rasa kemangi (thai basil), sampe rasa jahe pun juga ada di sini. So, ini membuat dia sangat tidak Italia sekali in my humble opinion. 

Presentation :
Gw sih ngerekomendasiin pake cone karena so instagrammable dibandingkan dengan cup. Lagian cone-nya panjang en gede banget gitu plus enak. Sebelas dua belas lah sama OMG cone-nya. 

Conclusion:
Grade:
Vanilla Scoop: A-
Chocolate Scoop: A

How Do I Get There :
Tempo Gelato Original, Prawirotaman
Tempo Gelato Jalan Kaliurang Km 5, di seberang Indomaret Jakal, atau di sebelah persis Luxury internet Café. 

5)

Restaurant's Name :
Ciao Gelato

White and Dark Chocolate 
Design and Architecture :
Italian Rustic Café. Vibe lightingnya cocok banget memang. Ekspektasi gw sih, gw bakal ketemu sama chef nya gitu soalnya kan katanya gerai ini dimiliki langsung ama chef nya itu. Yah, dengan jumlah tempat duduk yang tidak terlalu banyak en lumayanlah, berasa cozy kok. 

Pricing :
2 scoop = 25000 (cone)

Taste :
Agak nyesel juga karena nggak ada vanilla di sini, but... enak kok. Rasa white coklatnya agak aneh memang, agak pedes kayak ditambahin kemangi gitu, tapi untunya rasa dark coklatnya enak banget.. 

Yang menarik adalah, kita bisa tasting gitu. What?? Iya beneran, bahkan bisa berkali-kali tasting (pake endok es krim gitu). Asal ya tau diri, jangan berkali-kali.. 

Presentation :
Seperti sejatinya penampilan gelato lain di semua gerai gelato, penampilan dengan cone yang warnanya coklat itu memang udah penampilan yang paling top deh di sini. Lagipula dengan harga yang sama, mendingan nambah tekstur waffle crust dengan aroma kayu manis itu daripada kudu nambah satu scoop walaopun pas gw kesana gerai ini lagi promo tiga scoop cuman 30 ribu. 

Conclusion:
Grade:
White Chocolate Scoop: A-
Dark Chocolate Scoop: A+

How Do I Get There :
Secara lokasi sih, gerai ini ada di kawasan selatan UGM, emang agak jauh, tapi nggak jauh-jauh amat. Selatan jembatan laying Lempuyangan lah. Keliatan kok dari jalan. 

6)

Restaurant's Name :
Cono Gelateria

Vanilla Charcoal
Design and Architecture :
Desain minimalis dan terkesan sempit kalau dilihat dari depan. Fasadnya agak nyatu sama gerai-gerai lain di kanan kirinya. Mungkin sih kurang lighting aja sih. Gerai gelato dua lantai itu lebih luas yang di lantai duanya. Tapi, hati-hati dengan tangga-nya karena agak ringkih dan nggak stabil apalagi kalau lo agak berbobot lebih. Lantai dua sungguh pop sekali. Kesannya cantik en girly banget. Warna yang digunakan juga warna-warna yang chilling down dan nggak begitu gelap. So instagramable!

Pricing :
1 scoop = 15000 (without cone)
2 scoop = 25000 (without cone)
pake cone, + 5000 

Taste :
Well, sama seperti Ciao, di sini lo bisa nyobain dulu gelato pilihan lo. Sayang, pilihannya cuman sedikit en spektrum warna yang ditawarkan ya cuman itu-itu aja. Gak ada warna merah atau biru yang bikin gw pengen banget. Then, coklat en vanilla standar pun nggak ada. Duh

Akhirnya gw pilih Vanilla Charcoal. What? Vanilla ama areng?? Gw berasa pergi ke angkringan Joss Tugu deh nih. Vanillanya berasa tapi ada item-item yang ganggu gitu deh.. Hahaha... Enak tapi mendingan vanilla asli kemana-mana ya kan..

Untuk cone-nya, mines kayu manis yang biasanya ada di setiap cone. Renyah, tapi nggak herby, plus conenya lebih berasa manis. Mungkin gulanya banyak deh nih. 

Presentation :
Well, cone-nya diisi dengan gelato cukup banyak walau cuman satu scoop. Dibandingkan sama scoop di tempat lain, mungkin ini lebih banyak kali ya. Yang asik di gerai ini ada cucumber infused water yang bisa diambil di lantai dasar. Plus, gelasnya pun gelas kaca. 

Conclusion:
Grade:
Vanilla Charcoal Scoop: A

How Do I Get There :
Lokasi gerai ini dekat dengan rumah gw. Seberangan sama Aniime Distro di deket Flamboyan. 

***

Kesimpulan :


Dari segi rasa :
1. OMG Gelato
2. Ciao Gelato
3. Artemy Gelato

Dari segi harga :
1. Cono Gelateria
2. Artemy Gelato
3. Myoosik Gelato

Dari segi pelayanan dan presentasi :
1. Ciao Gelato
2. Cono Gelateria
3. Tempo Gelato

Ya itu  deh menurut gw mengenai gelato yang ada di Yogyakarta. Mungkin masih banyak Gelato baru lainnya yang bertebaran di Jogja sekarang. Well, gw mah cuman ngikut keadaan aja. Kalau sempet ya gw jabanin, kalau gak sempet ya kapan-kapan. Lagian, gw masih suka McFlurry kok, walo itu bukan gelato. Hahahahahaha....

See you next!!

Gigi Dua : Buat Apa Berdoa?

Rabu, Oktober 12, 2016
Woke, sedulur, mungkin kembali ke pembahasan spiritualisme kritis di blog yang nano-nano ini. Tidak ada dorongan khusus kenapa gw insist berbicara mengenai isu spiritual di dalam blog ini. Sekali lagi, gw cuman manusia biasa yang berpendapat. Pendapat itu bisa salah dan pasti bisa salah dan pasti belum tentu benar. Tidak ada yang paling benar di dunia ini, kecuali Tuhanmu. 


Pembahasan kali ini lebih ke topik, mengapa harus berdoa?

Berdoa itu memohon kepada Tuhan, benar? Menurut KBBI, berdoa itu mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan. Nah, kembali lagi, mengapa kita harus berdoa ketika semua yang terjadi di dalam hidup ini sudah ditentukan?

Oh, iya, ka nada takdir yang bisa diubah dan takdir yang memang tidak bisa diubah. Orang biasa bilang kalau kamu berusaha en kamu berubah, nanti pasti yakin deh bakalan sukses. Nah, bagaimana kalau memang cetak biru kamu itu tidak sukses. Dan berjuta-juta Joule energi yang kamu habiskan untuk berdoa dan bersembahyang itu tidak mengantarkan kamu menjadi kaya. Beralihkah kamu membenci Tuhanmu?

Kemudian, jika memang kamu kaya raya atas doa-doa-mu, apakah secara silogisme itu menjukkan bahwa doa-doamu dikabulkan oleh Tuhan? Segampang itukah pemahamanmu? Ini yang membuat orang menjadi manja dan lebih gawat lagi, memberhalakan Tuhannya sendiri. Tuhan dianggap sebagai sosok di atas langit yang selalu mengabulkan segala permintaan hambanya. Layaknya ibu peri lengkap dengan tongkat ajaibnya. Voila, maka terkabullah permintaanmu.

Terus bagaimanakah berdoa yang benar? Eits, sekali lagi, nggak ada benar dan salah. Maksud gw, bagaimana gw berdoa?

Gw lebih suka mendoakan orang lain daripada mendoakan diri sendiri. Gw seperti lupa apa doa buat diri sendiri. Ingat kembali premis yang berkali-kali mungkin gw sebut. Kita ini sudah diciptakan dengan sempurna lengkap dengan rezeki dan jodoh dan segala-galanya. Semua kisah kita baik sukses, miskin, duka, senang, nestapa, dan segala lika-likunya sudah dijadwalkan coming soon pada kitab yang kita terima sebelum kita terlahir ke bumi dan di amnesiakan. 

So, pun kita berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, dua-duanya adalah hijrah. Hijrah ini sudah tertulis dalam kitab kita. Trus apa yang bisa kita lakukan? Terus berdoa? Berdoa ini itu, berdoa minta hajat, berdoa minta jodoh, berdoa selamat dunia akhirat? Manusia memang pandai meminta-minta. 

Formulasi doa yang gw rapalkan saat ini hanyalah doa untuk orang lain, untuk orang tua, dan yang begitu-begitu. Nah, kalau kita rapalkan misalnya suatu kata ribuan kali terus kita bisa kaya mendadak. Apa ini? Ini bisa jadi istidraj. Dan semuanya sudah diatur dalam kitab itu. Atau juga bisa berdoa yang diulang-ulang itu menjadi semacam pem-fokusan tertentu, sehingga memang kekuatan pikiran akan mengalahkan segalanya. Misalnya minta sembuh, jika pikiran sudah disetel sedemikian rupa, akan timbul sebuah sugesti yang kabar baiknya bisa melawan rasa sakit itu sendiri. 

Berdoa yang pasti murajab itu pada saat kamu sudah benar-benar mengenal Tuhanmu. Maka kenalilah dirimu sendiri dahulu, karena HANYA dengan itulah kamu dpat mengenali Tuhanmu. 

Sebuah postingan berbau Katolik menyebut bahwa,

Tidak berdoa sama saja menyatakan tidak adanya iman dan tidak adanya kepercayaan kepada Firman Tuhan. dalam “Kita berdoa untuk menyatakan iman kita kepada Allah, bahwa Dia akan melakukan apa yang telah dijanjikanNya dalam FirmanNya, dan akan memberkati hidup kita dengan berlimpah lebih dari apa yang dapat kita minta atau harapkan (Efesus 3:20)”.

Well, menurut gw, iman itu berbeda dengan berdoa. Berdoa itu menurut gw sama dengan beribadah. Berdoa itu adalah pelayanan kepada sesama. 

So, mari kita simak cerita Gigi Dua di bawah ini :

(c) attribution to Kharisma Jati

Salam rahayu ing sambikolo.

The Ordinary Life of an Ordinary Worker

Selasa, Oktober 11, 2016
Hatta, gw menghela napas panjang.



Seminggu yang lalu gw nonton reality show favorit gw, Muhan Deojeon, atau Infinity Challenge. Tepatnya episode mengenai Muhan Sangsa (Muhan Company). Mereka berkolaborasi untuk tantangan membuat sebuah film bioskop layar lebar dengan sutradara dan penulis scenario kawakan yang sukses memproduksi banyak drama yang sukses di sana, salah satunya Signal yang juga baru gw tonton sekarang. Sudah gitu, film yang kalau diputar sekitar berdurasi setengah jam lebih ini bener-bener memicu adrenalin dan juga ciamik karena dukungan artis-artis besar lainnya seperti GD, Haewon, dan lainnya. 

Tapi, yang bikin gw click banget sama film singkat yang dirangkum dalam dua episode ini adalah setting dan pemaknaannya. Bahwa, kehidupan pekerja kantoran itu sama sekali gak gampang. Semakin tinggi jabatanmu, akan semakin membahayakan pula kehidupanmu. Mulai dari waktu istirahat yang sangat kurang, kesehatan yang sudah pasti rentan, sampai dengan masalah keakuran dengan keluarga, istri, dan tentunya anak yang semakin jauh. Mayoritas orang korea pulang tengah malam dan berangkat kembali di pagi hari. Tentunya sangat melelahkan. Sebotol dua botol soju di malam hari di kedai pinggiran kota akan sangat menyenangkan sembari mnenyumpah serapah kehidupan yang begitu keras. Seenggaknya ya itu yang bisa gw simpulkan. 

Hm, bisa dibilang gw juga pekerja kantoran sekarang. Walaupun jam kerjanya lebih manusiawi, namun, tetep aja rasanya lelah bukan main ketika sudah pulang dan sampai di rumah. Gw pernah nyoba cuman tidur empat jam dari jam satu malam. En itu rasanya sungguh gila sekali. Badan sakit semua en esoknya pikiran gak fokus karena hormon yang seharusnya membuat gw tidur masih bekerja. Udah gitu kalau dipaksakan, nanti akhir minggu gw bakal masuk angin en pusing-pusing. Jadilah gw ambil jam tidur aman yakni sekitar jam 10 sampai jam 11. 

Gw pakai jam 6 hingga jam 9 malam untuk berolahraga. Walau nggak wajib seminggu 7 kali tapi minimal dalam rutinitas yang hanya duduk di depan sebuah laptop dalam delapan jam itu gw merasa perlu bergerak. Keringat yang mengucur dalam sesi olahraga ini bener-bener membuat kesegaran yang menenangkan. Next, mandi sebentar selepas olahraga, baru berangkat tidur. Begitu seterusnya. 

Pulang gym, gw biasanya melakukan satu dari dua hal. 1) nonton drama atau western series en 2) baca novel. Banyak banget novel yang masih menunggu untuk dibaca. Gw adalah seorang librocubicularist – pembaca buku dalam keadaan tidur. Yah, semacam nina bobo begitu. Paling nggak bisa baca buku dengan keadaan bukan dalam berbaring. Begituah waktu bergulir hingga mendekati jam 10 malam, dan gw pun mulai menguap. 

So, balik ke muhan sangsa, gw nonton minidrama ini dengan penjiwaan yang sungguh sempurna. Memang hidup yang fana ini nggak selamanya enak. Just do the way it is. Nggak usah iri dengan orang-orang di luar sana yang mungkin bisa leyeh-leyeh, bisa jalan-jalan kemana-mana. Bersiaplah dengan drama hidupmu sendiri. Drama dengan sejuta kebetulan-kebetulan yang indah dan dramatis. Hidup tanpa mengharap sesuatu lebih indah karena setiap detik yang berjalan di depan adalah sebuah surprise dan kejutan. 

But, gw butuh sebuah penyegaran.

Book Review : Supernova Series

Jumat, September 30, 2016
Sebenernya dari dulu gw ogah-ogahan baca serial supernova ini. Tepatnya di jaman kuliah, saat si Indah menjejaliku dengan bacaan ini. Kalau boleh jujur, mindset pikiran gw semasa kuliah itu belum tinggi dan rumit. Gw masih menggilai bahasa yang super deskriptif ala Andrea Hirata. Lebih-lebih lagi gw nggak suka aja sama judulnya yang kayak ngikut novelnya Fira Basuki yang trilogy Jendela – Atap – Pintu itu. So, ketika pergi ke toko buku dan kemudian menemukan buku “Akar”, “Petir”, reaksi gw, apadeh ini. Kayak gak ada judul lain aja kah?



Entah momen apa yang melandasi pembelianku pada Supernova jilid pertama, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dan kemudian seperti anak kecil yang diberi permen loli, gw seperti ketagihan dan ingin lagi dan lagi. Adiktif. Jika memang aku dari awal tahu apa itu Supernova, mungkin aku perlu menunggu delapan tahun hanya untuk membeli “Partikel”, namun gw baru menemukan gaungnya setelah “Gelombang” terbit. Gw merasa sebelum membaca Gelombang, ada baiknya jika membaca empat buku yang terdahulu. 

Oke, mari kita review satu demi satu.

1) Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, a.k.a KPBJ *well singkatan ini lebih mudah ditulis*

Buku ini yang membuatku terkagum-kagum dengan bahasa yang digunakan dalam sekali baca. Tak bisa dipungkiri, riset Dee di dalam buku debutannya ini benar-benar dalam. Theory of chaos ini melandasi semua teori kebetulan-kebetulan yang ada. Begitu juga dengan keparalelan karakter semu buatan Dimas-Reuben dan tokoh di kehidupan asli. Nah, gw suka dengan karakter Diva di sini. Begitu cerdasnya ia sehingga segala yang dikatakannya adalah filsafat nan banal. Puisi-puisi yang diberikan Dee dalam percakapan tanpa suara dengan Ferre ini buku ini juga sangat mengena. 

Buku ini menjadi buku filosofis yang erat kaitannya dengan pencapaian spiritulitas dalam ranah pemula. Supernova membuat dunia menjadi taman kanak-kanak. Iya, setuju. Memang dunia ini hanyalah sebuah bagunan taman kanak-kanak yang beratapkan langit. Semua bebas bertingkah dan menertawakan setiap tragedi. KPBJ ini sangat bagus dan membuat gw bertanya-tanya. Apa sejatinya memang benar-benar ada layanan chatting yang menjelmakan segala permasalahan hidup yang dihadapi. Iya, seandainya saja ada. 

Mungkin banyak yang gak suka gegara fisikanya itu sendiri, malah ada yang berpendapat teori ini adalah gimmick marketing. Nah, buat gw, malah Dee paham sekali sama apa yang dia tulis. Dia mencari pentamsilan yang paling tepat dalam teori fisika kuantum. Dan memang dalam benda yang sebesar zarah itulah tersimpan pengetahuan menganai makrokosmos. 

2) Akar

Sosok Bodhi menjadi sosok sentral di buku ini. Dee menjadikannya sebagai biografi ketimbang novel dengan muatan filosofi, walo nggak sepenuhnya kehilangan jatidiri. Seperti sebelumnya, Dee selalu menghubungkan dengan induk novelnya di beberapa halaman terakhir saja. 

Sampai gw selesai membaca buku ini, gw masih belum bisa mengartikan apa arti Akar itu. Mungkin ada yang tahu? Apakah Akar menjadi menghubung antara satu entitas dengan entitas lain? Dari simbol flower of life yang berada di sampul buku ini, seharusnya sih memang begitu. Akar menyeralaskan hal yang divine dengan realitas manusia. 

Lumayan mengena, tapi satu derajat di bawah KPBJ in my humble opinion. 

3) Petir

Cerita berujung unik karena seorang manusia mempunyai kekuatan listrik. Hal ini mengingatkanku ke om ku almarhum yang juga bisa melakukan hal yang sama. Listrik untuk penyembuhan. Healing. Espektasiku awalnya dalah seperti tokoh Azura dalam Aang The Last Airbender. Azura dari negara api kan keren tuh bisa menyambar-sambar petir birunya. Kirain Elektra – si tokoh sentral di novel ini – juga bisa hal yang demikian. 

Namun, apa yang membuat gw tertarik lebih karena tokoh ini membawa pengetahuan mengenai meditasi seperti yang dilakoni Bu Sati. Gak tau juga apa hubungannya dengan si Elektra. Tapi makin lama cerita makin menye-menye karena pada akhirnya Petir bertemu dengan Akar. Bersentuhan dan kemudian ingat segalanya. Aliran darah adalah pengetahuan rupanya. Sanguinitas. 

Secara gamblang, sudah hampir tidak ada pengaruh supernova sama sekali di novel ini, maksudku level pengetahuan dan filosofinya.

4) Partikel

Yang gw sukai dari Partikel ini adalah jalan cerita yang mengena sekali dalam kultur budaya Indonesia. Sebuah pemberontakan iman biasanya akan diiukti dengan pengkafiran dalam masyarakat yang taqlid kepada pepimpinnya. Zarah adalah tokokh sentral dalam buku tebal berlambang unsur bumi di sampulnya. Dan praktis, buku ini dijejali dengan banyak istilah biologi dan fotografi. Perkelindanan keduanya membuat kita mengenal jenis-jenis tanaman yang bisa bikin fly. Singkat kata, gw jadi penasaran nyicipin Amanita muscaria sp, dengan zat Psilocybe yang katanya bisa mengantarkan diri ke dimensi lain. 

Argumenku sedikit banyak sama dengan argument Zarah. Entah kenapa suara gw semacam terwakili. Tapi semua dalam cerita itu seperti kebetulan yang karena saking banyaknya jadi berasa dipaksakan. Yah, pendapatku sih. But, okelah. Buku ini bisa dibilang juga Introduction to Ancient Alien. Ibu suri mengenalkan Alien 101 kepada masyarakat apatis. Apa yang mungkin dianggap nyata oleh penulis menjelma fiksi mentah. 

5) Gelombang

Novel kelima ini lebih bernada humor. Namun, di novel ini pula kita diperkenalkan dengan segala istilah-istilah seperti sarvara dan infiltran. Dan mereka-mereka ini disebut dengan peretas. Peretas juga dapat dinamai Harbinger. Entah lah, suka suka aja deh. Mulai juga kita diperkenalkan dengan gugus Asko. Tema besar Supernova yang bisa gw simpulkan adalah reinkarnasi. Setiap peretas, yang tereinkarnasi, memilih untuk amnesia. Misi mereka terlupakan untuk sementara, dan tugas merekalah untuk mengingat kembali misi tersebut. Buat gw aksioma ini begitu kerdil. Teneh, yang reinkarnasi cuman yang jadi peretas doang dong? 

So, intinya Alfa sang tokoh sentral di episode ini harus berbagi sketsa dengan Gio yang kayaknya mati-matian nyari Diva di belahan lain di bumi ini. 

Nah, pertanyaan gw adalah kenapa peretas harus mempunyai gugus? Gugus octahedron?

6) Intelegensi Embun Pagi, a.k.a IEP

Novel ini adalah pamungkas dari seri Supernova ini. Dan, semua tokohnya bermunculan semuanya. Gw jadi tau apa benang merah dari semua ini ya kecuali pertanyaan-pertanyaan. Buku tebal yang warnanya berbeda ini menjadi jawabannya. Dan memang Dee sangat pandai membentuk alur dan setelah lima buku terdahulunya membuat gw bertanya-tanya. Kini jawaban pun terurai. 

Filosofis KPBJ hilang 100%, yang ada tinggal kisah petualangan epik semua karakter, tokoh yang disangka-sangka baik hati malah jadi sarvara, begitu sebaliknya. Ada rasa rinduku semua kitab Dee menjadi daya tarik magis filosofis, tapi rupanya pengorbanan seseorang peretas di novel ini menjadi kebetulan sekali. Semacam cerita superhero. Well, taman kanak-kanak menjadi tempat ajang Pokemon Go. Bodhi jadi GPS-nya. Hahaha.. That’s epic! Apalagi cerita cinta Gio – Zarah plus Etra en sapa tuh si Phoenix, yah satu kata, kurang tebel. Itu aja. *padahal udah tebel en gw lahap dalam tiga hari*

So, kesimpulannya:

Dari kacamata penggemar novel cerita petualangan : Mantep banget dah semuanya di novel terakhir.

Dari kacamata penggemar filosofis dan spiritualis : Hanya KPBJ yang paling prima, yah, Partikel, Petir dan Akar lah sedikit.

Dari kacamata satsra : Diksi oke, gaya bahasa standar jurnalis, narasi bagus, tidak ada ungkapan yang terlalu vulgar. Teknik deskripsi oke standar. Paling suka adalah puisinya di setiap awalan bukunya. 


[Faz, 2016]
Diberdayakan oleh Blogger.